Keberanian untuk Membuktikan

Posted on


Keberanian untuk membuktikan diri merupakan salah satu langkah pasti untuk berubah menjadi lebih baik. Dengan hal ini mungkin kita disebut pemberontak, pembangkang atau bahkan anak durhaka. Tapi selama pilihan kita adalah pilihan yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan, mungkin sekali-sekali kita harus menunjukkan keberanian ini. Banyak tantangan itu wajar, tapi jangan jadi alasan untuk menyerah.

Saya ingin berbagi sedikit cerita, bagaimana cara seorang manusia bisa survive sampai saat ini. Walaupun sempat diremehkan dan dianggap tidak mampu oleh keluarganya sendiri.

Ryo di jaman kuliahnya sama sekali berbeda dengan dirinya di masa SMP. Teringat pertemuan kembali dengan teman SMP yang mengakui perubahan dalam diri Ryo, berubah menjadi lebih baik. Tidak seperti Ryo yang dulu membuat teman sebangkunya tertekan karena ada makhluk dingin pendiam seperti dia, sekarang Ryo lebih nyambung diajak ngobrol. Lebih ramah dan yang jelas lebih tinggi badannya. Bandingkan saja, saat masuk SMP tinggi badannya tidak 140 cm, terpendek kedua di angkatannya. Guru bahasa Indonesia nya saja sampai menyindir gara-garanya dia tidak bisa menghapus coretan di papan tulis bagian atas, “gimana kamu nyari calon istri nanti kalo tinggi kamu segini?emang ada yang mau sama cowok sependek kamu?”. Merasa sangat malu, waktu pulang si pendek Ryo mengadu ke mamanya dan memulai paket hemat quick tall. Caranya gampang, pull up di ventilasi pintu rumah, push up tiap hari, latihan lompat tali menggunakan kabel bekas renovasi rumah dan terakhir, minum susu beruang seminggu 3 kali. Hasilnya luar biasa, dalam waktu paling 9 bulan si pendek berubah menjadi si tinggi. Waktu naik kelas 2 SMP, tingginya sudah mencapai 167 cm. Sekarang saatnya membalas ejekan, “Lo yang pendek! Makanya minum susu!!”.

***

Bagi sebagian orang, masa transisi dari SMP ke SMA adalah masa yang luar biasa, lulus, dapet libur panjang, ganti desain seragam baru, dan ketemu teman-teman baru. Bagi Ryo sebagian terasa menyenangkan, sebagian lagi tidak. Saat itu yang diinginkan adalah masuk ke SMA berlogo ‘plus’ di kotanya. Namun, hidupnya sudah diatur. “Udah masuk SMA 6 aja, masuk ke sana mahal! Bisa-bisa orang rumah makan batu kalo kamu masuk ke sana”. Saat itu Ryo marah semarah-marahnya dan lari ke kamar. Rasa egois keluar dari remaja yang sedang puber, “Nilai gw bagus kok, kenapa gw ga boleh masuk ke sana? Kalo gw nangis-nangis pengen masuk sana padahal otak gw jeblok okelah. Otak gw sanggup kok!”. Ya memang, di Indonesia punya otak memadai bukan segalanya. Sekolah di Indonesia ada kastanya. Kalo mau masuk sekolah bagus. Ortu lo mesti kaya, kalo ga? Jangan harap. Untung masih bisa sekolah. Begitulah kenyataanya. Akhirnya Ryo mengalah, dia harus sadar dia sekolah dengan bantuan adik-adik ibu nya karena ayahnya sendiri sudah almarhum waktu dia masih kelas 5 SD.

Selama 3 tahun masa SMA dijalani, Ryo mencoba menjadi orang yang lebih berkualitas. Ikut banyak organisasi, dari Sablon Club sampai Kelompok Ilmiah Remaja. Dia dipercaya memegang jabatan yang cukup penting selama beraktivitas di ekskul sekolah, pernah menjadi PJ Perpusatakaan di ROHIS, Ketua Pelaksana di KIR, menjadi wakil ketua di Sablon klub. Dia juga sering ikut lomba-lomba. Punya banyak teman dan sudah mulai mengenal apa itu cinta, tapi cinta monyet. Nilainya pun terbilang cukup baik, dia bisa menjadi juara kelas dari kelas 1 sampai kelas 3. Akhir masa kelas 3 nya berlangsung baik. Ryo meraih NIM yang terbilang sangat memuaskan, dilengkapi dengan nilai 10 di Matematika.

Saat-saat transisi dan menjelang SPMB terasa de javu bagi Ryo. Dia pribadi bercita-cita masuk ke ITB, pilihannya adalah Informatika ITB. Tapi keluarganya kembali ngotot menunjuk kedokteran yang harus dimasuki Ryo. Kali ini ada sedikit kelucuan. Kalau di masa SMP dia tidak boleh memilih karena mahal, sekarang dia malah disuruh memilih yang mahal. Sekarang alasan Om nya lebih banyak lagi, “udah ngambil kedokteran di sini aja, Bandung itu jauh. Kamu kan belum pernah ke luar kota, kalo kenapa-kenapa gimana? Kamu itu anak laki-laki satu-satunya di rumah. Kalau kamu ada masalah ntar mama kamu yang repot”. Dilema kembali terjadi, mengikuti orang tua yang menghidupinya atau memlilih kebebasan yang harus bisa dipertanggungjawabkannya. Yah, semua harus punya pengalaman pertama pikir Ryo. Untungnya Ryo kali ini bisa lebih bisa meyakinkan keluarga. SPMB member kesempatan pesertanya memilih 2 pilihan. Inilah celah yang dimanfaatkan Ryo untuk meraih mimpinya. Dia bilang ke keluarganya dia memilih STEI ITB (fakultasnya Informatika) sebagai pilihan pertama dan Kedokteran menjadi pilihan keduanya dengan alasan passing grade di ITB lebih tinggi. Kenyataannya, Ryo memilih ITB di kedua pilihannya, Teknik Infomartika dan Teknik Fisika. Memang bohong, tapi ini adalah cara yang terpikir olehnya waktu itu. Alhamdulillah dia lulus pilihan pertamanya, dan rahasia kecilnya tidak terbongkar, walaupun ada terasa beban yang mengganjal.

Walaupun keluarganya masih berat hati, akhirnya Ryo diijinkan berangkat ke Bandung, sendiri tanpa ada keluarga yang mendampingi karena memang mereka ngga bisa ikut saat itu. Mencapai cita-cita memang berat. Memulainya pun sudah sangat menegangkan. Namun Ryo akhirnya bisa membuktikan satu langkah kecilnya, “Gw bisa ke Bandung sendiri! Walaupun gw belum pernah ke sana”. Mengurus semua dokumen masuk S1 nya dilakukan sendiri, kadang iri keluar juga. Saat yang lain ditemani keluarga nya dan mendaftar di Sabuga kemudian berkeliling Bandung bersama-sana, dia harus mengurusnya sendiri.

Hidup yang hampir empat tahun dijalani di Bandung sangat mengubah dirinya, dan yang terpenting bisa mengubah pandangan keluarga tentang kemampuannya. Sejak memulai kuliah, Ryo sudah tidak bergantung lagi ke orang tua-nya, alhamdulillah dia tidak membebani lagi ibunya dan terutama Om nya masalah uang. Ryo yang sekarang sudah bisa mandiri, menghidupi diri sendiri bahkan sudah bisa mengirimi adiknya uang untuk biaya kursusnya. Walaupun masih sedikit, tapi ini adalah pembuktikan. Banyak cara yang halal untuknya dalam mencari rezeki karena dia percaya, rezeki dari Allah datangnya dari mana-mana, jadi tidak perlu takut lapar. Ryo pernah menjadi distributor helm, berbisnis MLM bahkan menjadi penjual donat pun pernah dijalani untuk mencari uang memenuhi biaya hidupnya di Bandung. Ryo aktif di kegiatan mahasiswa, menjadi asisten Lab dan kelas. Sudah punya usaha sendiri dan yang terpenting nilai kuliahnya tidak jeblok, meskipun ngga cum laude juga.

Orang tua nya pun mengaku bersyukur Ryo dulu menolak pilihan orang tuanya. Ryo pun telah menceritakan rahasia kecilnya saat SPMB dan keluarga nya memaafkannya. Sekarang keluarga Ryo bukan lagi orang yang dulu suka memaksakan kehendak. Beruntung bagi adik Ryo sekarang, dia bebas menentukan tujuan kuliahnya. Tidak terbebani paksaan orang tua yang menginginkan ini itu.

***

Tulisan ini Saya dedikasikan untukorang-orang yang mempunyai kisah yang mirip dengan ini. Juga untuk orang tua yang Saya pervaya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi percayalah, yang Anda pikir baik tidak selamanya cocok dengan  pikiran anak Anda. Biarkanlah mereka memilih, jika yang mereka pilih juga baik. Satu saran Saya tapi bukan pesan sponsor, tontonlah film tahun 2010 berjudul ‘3 Idiots’, bagus buat anak baru masuk kuliah dan orang tua yang punya sedikit rasa otoriter. Saya sudah menonton film itu 6 kali dan selalu termotivasi tiap kali menontonnya. Oh ya, silakan ambil sisi positif nya, tapi kalau bisa bagian tentang ‘bohong’ nya jangan diikuti.

Semua orang bilang ke Wright bersaudara (Penemu pesawatt terbang), “Kamu ga akan bisa”. Terima kasih Tuhan mereka berdua tidak mendengarkannya.

Walaupun kamu merasa mereka lebih hebat dari kamu, tenanglah. Jadikan sisi positifmu menonjol dan buat mereka merasa yang sebaliknya, “Kamu lebih hebat!”. (Original quote from me)

Iklan

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s