Banyak yang salah dengan (pendidikan) Indonesia, catatan I

Posted on Updated on


cara cerdas dan cepat menjawab soal

Selama aku sekolah 12 tahun ditambah kuliah yang hampir 4 tahun. Ada keanehan yang kerasa waktu sedang belajar atau kuliah. Kadang timbul pertanyaanku waktu belajar fisika, apa gunanya ini nanti di masa depanku. Sejujurnya aku bukan tipe orang yang belajar tanpa tujuan. Bukan pula tipe orang yang ngerti banget soal teori, that’s really not my style. Aku adalah tipe orang yang belajar dengan visual dan praktikan yang baik. Kenapa aku sampe bilang begitu? Kuberi contoh pengalamanku di Manajemen Pemasaran, kuliah SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen) yang kuambil semester ini. Sejujurnya aku bukan anak  SBM, aku anak Teknik Elektro. Ketika belajar, misalnya tentang segmentasi pasar. Aku bisa mengerti dengan cepat saat diajari, diberi slide, dan semakin membuat paham ketika diberi tugas real untuk membuat segmentasi pasar sebuah produk. Tapi kalo ditanya apa definisi segmentasi pasar, jangan Tanya Saya, liat kamus saja sana. Aku bisa menjelaskan dengan baik kenapa Air Asia bisa murah bahkan gratis, membuat ide-ide iklan yang simple tapi mengena untuk bisnisku, karena memang aku terjun langsung dalam bisnisku dan mempraktekkannya. Bukannya mau menyombong, aku mungkin termasuk mahasiswa yang baik di kelas Manajemen Pemasaran, dari segi praktikal. Tapi coba liat kuis yang kudapat. Angka 50 skala 100, itulah angkanya. Why? The answer it, because I’m not the theoretical man.

Indonesia mungkin sangat jelas tipe pendidikannya, kamu akan dikatakan pintar ketika ujian tulismu bernilai tinggi. Bahayanya, kebanyakan hanya ujian tulis yang dinilai. Jadi kita hanya terpaku untuk menjawab soal-soal tanpa memahami apa itu. Contoh nyatanya SPMB atau yang sekarang namanya SNMPTN. Hanya ujian tulis, pemeriksa tidak mau repot mengetahui kualifikasi lain peserta uji yang mau masuk ke universitasnya, peserta baik di ujian tulis maka dia akan masuk univ tersebut, jika tidak, ya silakan cari tempat lain. Mungkin metode ujian tulis akan benar jika Fakultas yang dituju adalah Matematika atau Fisika, nah kalau Hubungan internasional? Ilmu komunikasi? Atau olahraga?

Bayangkan jika hanya mengandalkan kemampuan teori, ketika sebuah kapal tenggelam, apa orang yang dapat 100 di teori berenang yang selamat, ataukah orang yang bisa berenang yang selamat.

Mungkin aku termasuk orang-orang yang beruntung masuk Teknik Elektro ITB, subjur Teknik Komputer. Bukan karena nama besar ITB yang kubanggakan. Tapi metode pengajaran di Teknik Komputer yang kudapatkan yang membuatku merasa beruntung. Di sini kami tidak diajarkan untuk sekedar tahu bagaimana cara processor computer bekerja. Di sini kami diminta membuat processor. Sangat jarang dosenku yang memberi ujian tulis. Hampir sebagian besar ujiannya take home. Kami diberi waktu beberapa hari untuk mengerjakannya, apa ujiannya? Pernah kami diminta membuat desain control lift, pernah juga diminta membuat Control lampu lalu lintas, bahkan pernah dibebaskan untuk membuat desain alat sesuka kami, asalkan tingkat kesulitannya meyakinkan.

Dalam praktikum pun demikian, kebetulan aku sekarang jadi Koordinator asisten. Dari awal aku ngomong sama praktikannya, aku ga butuh laporan yang panjang, aku ga butuh tulisan dasar teori yang paling cuma copy paste dari buku. Yang aku mau, laporan tersebut hanya berisi data, analisis dan kesimpulan yang baik, paling 3 sampai 6 halaman. Aku ga pengen praktikan jadi membuang-buang waktu menulis hal yang nantinya malah jadi sia-sia buat mereka. Ga kepake..

Tapi kenapa ya, masih ada aja univ yang menggunakan cara yang menurutku kolot. Misalnya dalam praktikum, praktikannya diminta menulis laporan sementara dan laporan tetap yang masing-masing tebalnya 15 halaman, total 30 halaman. Semua harus tulis tangan, alasannya karena takut mencontek, oh my god! Hidup di jaman apa kalian!! Sampe geleng-geleng aku dengernya. Hal yang paling parah adalah isi laporan sementara dan tetap itu hampir sama (mending kalo pake computer, ini tulis tangan), dan tidak semua yang ditulis dalam laporan itu dikerjakan nantinya saat praktikum. Apa gunanya coba? Apa praktikum itu hanya jadi ajang mempersulit praktikan dan balas dendam. Asisten yang sekarang balas dendam karena dipersulit asisten sebelumnya, dan nantinya waktu praktikan yang sekarang dipersulit, mereka akan membalas ke praktikan nanti saat mereka jadi asisten, sebuah lingkaran setan dari orang-orang kolot yang bilang mereka berpendidikan. Kalau alasan mencontek jadi dasar praktikan disuruh menulis tangan laporannya, sungguh-sungguh manusia purba. Hal tersebut tetap saja menimbulkan tindakan mencontek, cuma lebih menyakitkan, karena tangan pegel harus tulis tangan.

Sebagai anak teknik, aku sadar kalau aku berkembang dari hasil pekerjaan seniorku. Computer digital berkembang karena dulunya ada computer analog. Hape yang dulu hanya bisa telepon dan sms, sekarang bisa browsing karena ‘mencontek’ dari ide sebelumnya. Aku tidak bilang mencontek desain orang secara total, hanya ganti nama dan identitas. Yang aku bilang adalah belajar darihasil pekerjaan orang yang sudah mengerjakan hal yang sama dan kembangkan menjadi lebih maju. Jangan sok idealis dengan bilang, engineer itu harus membuat semua dari nol. Itu engineer goblok namanya. Sebagai contoh tantangan kecil, apakah kamu bisa membuat sup ayam yang enak tanpa hasil kerja orang lain?? Jangan pakai panci yang dibuat orang, jangan pakai sayur yang ditanam orang, jangan pakai kompor yang dibuat orang dan jangan pakai bumbu dari orang, buatlah dari nol, dari mencari benih wortel di hutan sana lalu tanam sendiri di belakang rumah, kalo kamu memang sebodoh itu untuk melakukannya.

Aku ingin membagi tulisan ini ke semua asisten, semua dosen, semua guru dan semua pendidik di Indonesia. Ayo perbaiki kualitas pendidikan Indonesia dengan mengubah cara mendidik di Indonesia.

created by :

Andri Haryono

–Belajar lah menghargai karya orang dengan mencantumkan sumber aslinya

Iklan

3 thoughts on “Banyak yang salah dengan (pendidikan) Indonesia, catatan I

    Utami Ekawati said:
    23 April, 2010 pukul 8:04 pm

    hihi…
    nice andri…
    paragraf2 awal menggambarkan marketing banget..
    menjelang akhir2..hmm..cool…*laporan tulis tangan untuk menghindari mencontek laporan..
    emang tuh gak asik..hal ini terjadi padaku tingkat3..
    adik tingkat yg kena konsekuensi karena kaka angkatnya berlaku curang
    kamu mmg teknik bgt..tp kemampuan teoritikal juga ttp diperlukan untuk profesi2 tertentu.pengacara,hmm..farmasi iya gak ya…bikin obat harus bisa…tapi teori untuk kounseling juga 🙂

    […] This post was mentioned on Twitter by Andri Haryono. Andri Haryono said: Banyak yang salah dengan (pendidikan) Indonesia, catatan I http://tinyurl.com/346g9qx […]

    dian said:
    10 September, 2011 pukul 9:39 pm

    izin copas ya gan.

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s