Renungi curhat anak cerdas istimewa

Posted on Updated on


I am one of David Hartanto’s close friend and I am here to give you some facts, assumptions, possibilities about this case Facts:

1. Lok Tat Seng: Dean of Student of NTU gathered all Indonesian students in International Student Center on evening after incident and he just said there was witness on the spot who saw David’s body lying on the ground, dead. Dean did not said that witness saw David jumped from balcony. And that is, according to him, all he has saw.

2. The only official statement from police is: David was found dead at the crime scene, they did not mention whether he commited suicide. The link: http://www.straitstimes.com/STI/STIM…20at%20NTU.pdf

They also just mention ‘The professor was believed to be stabbed’. The police did not say that ‘the professor was stabbed’. Where this assumption come from? Why they did not say about it?

3. I and some Indonesian students gather tonight, 3 March 2009, at 8 pm, at International Student Center and talked to David’s parent. They have seen his body. There was NO WOUND whatsoever on his wrists and police also has confirmed it. I assumed that his parent would not lie it means that all media news about ‘David slashed his wrist’ was FAKE.

4. The wounds found on David’s body, according to his parents, were on his head (It is assumed due to fall injury), and slash wound on his neck. The wound on his neck is very suspicious, in my opinion. How he received that wound?? Again, according to his parent, police guessed that it may be happened when the bottom part of his head smashed the ground. In that case, his chin will have broken and it did not.

.

My question is: WHERE DOES THAT SLASH WOUND ON HIS NECK CAME FROM? Assumptions:

1. David stabbed professor. How did you know? The crime scene is closed room, only David and that professor. No one see what has happened. Eye-witness only saw David run out from that room.

2. David commited suicide. How could someone who commited suicide drop himself into glassed roof, instead of directly drop himself to ground.

3. David slashed his wrist. I do not know where this news came from…

4. David’s motivation.

4.1. He pissed off since his prof did not give satisfactory grade The grade has not been released and he even has not submitted the report. It is also NTu policy not to inform the student about the grade which they got before release of the result.

4.2. He has mental problem No record in Student Counselling Centre about his attendance. For bright student as him, I did not believe that he did not attend counseling if he has some problems. Also, he still brought bag with usual daily stuff, on incident day, such as drink bottle, towel, etc. If David planned to kill someone why would he prepare to bring such things. It is easier for him to just bring one knife and stab his prof on spot.

4.3. He pissed off because his scholarship has been revoked I knew David since I was his roommate for 2 consecutive years during Mathematical Olympiad training camp. He almost did not qualify for IMO, only managed to get at 14th rank from 15 people selected. He still joked and laughed to me at that time. He also did not get anything from IMO and still fine, not seemed depressed whatsoever, and according to his parents, he said ‘At least, I managed to represent Indonesia at IMO’ He also still play Hammerfall game in Facebook at 2 am on the incident day. My friend saw his Facebook account online.

How come a murderer played game in the night before incident? If I was him, I will seriously think how would I prepare myself tomorrow Possibilities:

1. Professor attacked David. I deduced this thing for several key points. According to many reports, David’s cloth was soaked on blood. If the blood is the result from slashing his wrist, it should not soak his cloth since wrist is far from body. If the wound is from neck, it is easier.

2. David tried to run from Professor. After he realized that he was attacked, he resisted and run from that room, with wound on his neck.

3. David falled because of unconsciousness. He became panic and probably lose his common sense because of terrible bleeding, drop himself down into glassed roof to escape from his Professor.

I am responsible for what I have written here, and contact me at kaminari.no.me@gmail.com

if you need any clarification.

============================== >

Dari milis cfbe. Mohon maaf bagi rekan-rekan yang sudah membaca sebelum ini. EP

————————————————————————–

An hour from home, thousand years from heart  Geger. Seorang mahasiswa NTU bunuh diri setelah menikam profesornya  sendiri. Tidak seperti di Indonesia dimana minimal terjadi 3 pembunuhan  sehari, kisah ini akan menjadi berita utama di koran Singapura. Apalagi pelakunya orang Indonesia.  Sontak gue mendapat telpon sana-sini dari rekan satu sekolah yang kini  telah jadi jurnalis di negeri Singa. Apakah gue kenal David? Seperti apa orangnya? Menurut loe motifnya apa? Gue ga kenal David. Punya fotonya juga  tidak. Tapi gue akan bilang, I was David.  Gue mungkin tidak tahu penyebab kelakuan nekadnya. Mungkin saja alasannya  sedangkal pacarnya direbut profesor. Tapi sebagai David, gue gak heran, mengapa seorang mahasiswa bermasa depan cemerlang bisa berpikiran pendek seperti pengangguran kekepet hutang. Gue merasa wajar ketika seorang peraih beasiswa bernasib seperti anak SD yang gak lulus UAN.

Bayangkan satu pesawat di pagi hari penuh dengan anak-anak tercerdas dari seluruh Indonesia. Kepala kami mendongak ke atas, penuh percaya diri dan harapan. Orang-orang yang mengantar kami punya senyum bangga di bibirnya. We are the chosen ones. Juara satu dari antara juara-juara satu lainnya di tiap sekolah. Jika bukan pemenang Olympiade matematika, mungkin Olympiade Fisika, atau Kimia, atau biologi, atau juara lomba debat internasional. Mayoritas punya foto bersama Pak Menteri.  Itulah sebabnya kami dipersatukan dalam pesawat itu. Bakat menjanjikan telah menarik perhatian Pemerintah Singapura. Tidak seperti pembantu dan  kuli yang kelasnya adalah Foreign Worker, kami diundang sebagai Foreign  Talent. Di Singapura, kami dijamu oleh kamar asrama yang *meski Oknum R rasa kurang memadai* sangat-lengkap. Kami mendapatkan kamar yang bersih, air listrik-microwave sepuasnya, plus internet 100  mbps. Fasilitas sekolah  sangat baik. Beberapa dari kami menjadi asisten dosen, digaji untuk  belajar dan riset dengan materi tercukupi.  Sayangnya, terkadang terlupakan bahwa bakat itu melekat pada seorang manusia. Kami dilihat hanya berdasarkan apa yang dapat kami hasilkan, bukan sebagai anak manusia. Hak paten apa yang bisa kami hasilkan? Tulisan  untuk jurnal mana yang bisa kami terbitkan? Dapatkah penghasilan kami  meningkatkan pendapatan nasional? Terlebih gue bukan warga negara, itu artinya gue dan orang tua gue tidak pernah menyumbangkan pajak guna membangun negara. Jadi ketika gue menikmati majunya negara Singapura, gue dituntut untuk `membayar’ lebih  dari warga-negara biasa, dengan semakin berprestasi dan mengharumkan nama universitas seharum-harumnya.  Dan karena kami bukan manusia, kegagalan bukanlah hal yang bisa diterima.  Hanya manusia yang bisa gagal, bakat tidak pernah gagal. Gue cukup beruntung tidak pernah dikejar-kejar 40 email menuntut diselesaikannya tugas yang tak masuk akal untuk bisa selesai.

Profesor gue cukup manusiawi  untuk tidak menyebut gue orang tak berguna, yang tergoblok yang pernah ia  temui, yang menyia-nyiakan beasiswa.  Tapi gue sungguh mempertanyakan hakikat gue sebagai manusia ketika gue terpaksa menggelandang karena gue tidak ikut cukup banyak kegiatan di kampus. Saat gue mengadukan nasib gue, kesan pertama yang gue terima adalah: sebodo-wae sebatang kara di Singapur, ga punya temen pula, salah sendiri ga ikut banyak kegiatan! Kalau ikut kegiatan kan dapat poin bisa tinggal di kampus!  Ketika gue bilang gue kan mahasiswa asing, sekolah disini aja udah susah, masa harus ikut kegiatan banyak-banyak, kesan berikutnya adalah: sebodo wae! Sudah tahu posisi jadi mahasiswa asing, bakal susah kalau gak dapat akomodasi, harusnya semakin rajin ikut kegiatan! Ketika akhirnya gue berkeras bahwa gue sudah diterima di NTU berarti kesejahteraan gue harus dijamin dong, kesan terakhir adalah: sebodoh-wae! Sudah bagus diterima disini, dapat pendidikan bagus murah, bisa masuk NTU berarti bisa bertahan hidup disini, dong! Begitulah the chosen ones jadi gelandangan, dibuang-buang dan diragukan  kemampuannya. Berada dalam tekanan konstan untuk berprestasi karena itulah satu-satunya nilai kami, menjadikan gue juga kurang mampu melihat harga  gue sebagai makluk hidup. Terhitung 3x gue berpikir bahwa mati itu mungkin  ga jelek-jelek amat, habis apa gunanya hidup kalau tidak berprestasi?Tapi ini kan Singapura, satu jam seperempat dari Jakarta! Sama anak Bandung lebih cepet sampai rumah! Telpon juga murah, apa gak bisa mencari kesejukan dari keluarga?Yang gue rasakan, jarak satu jam seperempat itu menjadi ribuan tahun ke  hati orang-orang terdekat kami. Di mata mereka gue bukan lagi seseorang yang bisa (dan boleh) menangis. Ada segudang harapan dan impian yang tersusun di bahu kami. Kami kini dilarang gagal. Maka ketika telepon,  hanya kisah sukses dan keberhasilan yang tega dibagi. Jangankan dengan keluarga yang tak melihat langsung, tetanggapun belum tentu bisa dijangkau. Setiap orang punya tuntutan yang sama untuk berprestasi, sehingga sulit untuk tidak bersaing, sulit untuk tidak sibuk menyelamatkan diri sendiri. Tidak setiap hari sahabat bisa punya waktu untuk mencegah pikiran nekad. Lihatlah bangku-bangku taman yang selalu kosong di asrama sekolah. Sosialisasi itu kadang bisa buang-buang waktu! Gue tidak menyesali 4 tahun kebelakang, karena memang benar, tanpa apa  yang ada 4 tahun itu, tidak ada gue yang sekarang. Tapi gue juga tidak  menyangkal bahwa hal sama yang telah gue lewati telah membuat kakak temen gue melompat ke rel kereta api dalam percobaan bunuh diri yang gagal. Mengirim anak dokter ternama masuk Rumah sakit jiwa. Membawa seorang kawan memecahkan kaca ruang kuliah dengan kepalanya sendiri. Bertahun-tahun gue berusaha mengatakan pada orang-orang di sekitar gue betapa masuk akalnya seorang mahasiswa NTU yang cerdas, hidup nyaman di Singapura, dengan takdir meyakinkan, berakhir naas di rel kereta api atau di rumah sakit jiwa. Tapi gue mungkin bukan narator yang baik, karena ga ada orang yang percaya. Tanpa pernah tahu apa yang ada sebenarnya David maksudkan, tanpa sengaja ia telah mewakili apa yang selama ini gue, dan teman-teman gue ingin ungkapkan. Bahwa di permukaan, hidup kami tak kurang satu apapun. Tapi apa perlunya mempertahankan hidup jika seseorang hanya dilihat sebagai mesin dan benda mati?

http://margarittta.multiply.com/journal/item/75/An_hour_from_home_thousand_years_from_heart

Iklan

One thought on “Renungi curhat anak cerdas istimewa

    Frillazeus said:
    28 Maret, 2009 pukul 6:58 pm

    Wow, this is nice…
    Lagi baca-baca tentang David Widjaya dan tertarik dengan alamat email orang yang berani menulis di Strait Times, pas googling, alamat ini salahsatu yang teratas, cool

    Curhatannya bagus ya, cukup meyakinkan. Tapi kok jadi “hampir” semeyakinkan opini temannya David ya? Jadi mana yang bener nih? hehe…

    kidding, just want to share my thought, nice aniway :mrgreen:

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s