Andai Dia Tahu

Posted on Updated on


Semarang, 13 november 2000, tengah malam (tepatnya 00.00 dini hari) Kriiiiiing !!!!!! deru telepon memecah hening. “Met ultah yaae….” Suara yang asing ditelingaku memulai awal dari segalanya. Tepatnya setahun yang lalu. * * *
Semarang, 13 November 2001 (dalam sebuah kamar) Bulan masih bertengger didahan malam. Bintangpun masih setia jadi punggawa. Malam ini, setahun yang lalu, sosok tegap penuh kharisma itu mulai masuk dalam lingkaran hidupku. Tatapan teduh matanya, mampu meneduhkan keringnya hatiku. Lembut suaranya, menyentuh segenap sepiku. Sejak saat itu bayangan wajahnya mengganggu konsentrasi otakku. Aku masih tak dapat menutup kelopak mata ini. Kenapa dan mengapa, hanya dua kata itu yang memenuhi ruang benakku. Memang, kesempatan seperti awan, dia terus saja berlari dan entah kapan akan singgah kembali. Yang pasti, sesal masih mendengung diotakku. Kenapa aku tak gunakan kesempatan itu? Mengapa semua ini mesti terjadi? Zamrud, Arjuna yang kutemukan secara tak terduga ditempat yang bisa diduga. Sejak kerjasama antar organisasi itu, aku mulai terseret arus.
Senyumnya, membuka pintu gerbang hatiku yang berkarat. Kharismanya, mematri relung jantungku. Kesibukan, aktivitas dan tetek bengeknya membuatku tenggelam. Telfon pertamaku padanya untuk membahas proposal. Telfon keduaku padanya untuk membuat time schedule. Telfon ketigaku untuk sebuah birokrasi. Selesai. Namun, ada yang aneh saat tanganku tak menyentuh tombol-tombol nomor telfonnya.

Suara lembutnya yang begitu tenang dan mampu memecah segala ketegangan membuat rindu gendang telingaku untuk mendengarnya lagi. Hingga……, telfon keempatku untuk sebuah perbincangan.

“Kuharap kamu telfon lagi” manis sekali kalimat itu meluncur dari bibir Zamrud, membuat sukma seorang Safir melayang. Aku mulai ragu, ada apa dibalik kalimat itu? Hari mulai merambah minggu. Kita dekat, kita saling bertukar kisah. Minggupun menggandeng bulan. Kita semakin suka menghabiskan waktu bersama. Bulan – bulan itupun membawa suatu penantian. Aku tak tahu apakah ini harapan atau khayalan. Namun, salahkah aku mengharap jika telfonku selalu ditunggunya? Salahkah aku mengharap jika emailnya selalu ada dalam inboxku? Salahkah aku mengharap jika dia tak lupa menjawab salam-salamku? Dan salahkah aku mengharap jika dia selalu rajin menawarkan antar jemputnya di setiap kegiatanku? Tapi, satu yang membuat bimbang memahkotaiku, mengapa begitu baiknya dia pada setiap hawa? Mengapa juga begitu sibuknya
dia jika aku ingin dia singgah dirumahku? Dan mengapa pula dia selalu menjawab “ Bagiku tak masalah siapa yang telfon, yang penting kita berdua bisa ngobrol” ketika kuingin dia memutar angka-angka nomor telfonku. Bimbang. Ragu. Bingung. Membuat satu adonan pertanyaan besar. Aku sadar, begitu sulit tuk menggapai wangi tubuhmu, diantara kupu-kupu yang siap hinggap dihatimu. Namun kutahu kutakmampu tuk ungkapkan isi hatiku padamu. Biarlah cintaku membeku dan terkubur bersama berlalunya waktu. Satu yang masih lekat dalam piringan memoriku. Saat kau peluk erat aku, eraaat sekali. Aku diam. Menikmati detik-detik itu dengan iringan air mata perpisahan. Teduh matanya terasa ukirkan makna yang dalam. Tajam sekali. Seolah ingin ungkapkan sesuatau yang tak tersampaikan. Entah……, mungkin hanya pradugaku saja.

Waktu terlalu cepat membawanya ke London, sampai bibirnyapun tak sempat ucapkan kata selamat tinggal padaku. Masih rapi tersimpan kartu ucapan perpisahan itu dengan cover mawar merah kesukaanku, mewakili kata hatimu yang semakin membawaku bertanya dalam ketidakpastian dan kehilangan. Saat itu ingin sekali kubisikkan kata ‘ aku sayang kamu’ tapi….,

ah, sudahlah. Akan kuprasastikan saja kenangn tentangmu, menjadi museum yang abadi di sukmaku. Berbingkai ragu selamanya. Entah kini engkau bagaimana. Andai dia tahu. Pukul 12 malam lebih, tak ada dering telfon seperti tahun lalu. Penantian yang panjang berakhir jua. * * * Di belahan bumi yang lain. London, 14 November 2001 (ditengah keheningan angin subuh) Harusnya beberapa jam yuang lalu kutelfon seorang bidadari. Yah, Safir, dia berulang tahun kemarin. Seuntai mawar merah yang maniiiis sekali, membawa kumbang-kumbang untuk mendekat padanya. Harumnya mengisi jiwaku sejak setahun yang lalu sampai detik ini. Ah, tetapi, begitu banyak pula arjuna-arjuna yang hendak menerkammu, membuatku ragu,
apakah aku mampu menjadi nahkoda bagi kemudimu? Apakah aku bisa menjadi ksatria pemenang sayembara? Dan apakah aku pantas melengkapi sebelah sayapmu tuk melintasi buana berdua? Aku tak tahu mengapa engkau bisa membuatku berdegup kencang dengan senyummu. Senyum yang mungkin bukan hanya untukku. Aku juga tak mengerti mengapa engkau mampu membuat keringat dinginku bertetesan saat aku harus bertumpu dengan tatapanmu. Tatapan lentik yang selalu segar dan ceria. Andai kamu tahu. Aku ingin menjadi bintang dijiwamu, penerang bagi hidupmu. Satu yang pasti, akan kuukir indah nama kita dalam kanvas ingatanku. Zamrud dan Safir. Harusnya, dua batu permata ini bersatu menghias liontin kasih. Tapi, apakah kamu tahu yang aku rasakan Safir. Memang, cinta adalah saat kulihat kamu tersenyum tanpa beban dan sayang adalah saat kutatap matamu. Safir, kau begitu indah, hingga teramat sayang diriku untuk menjamahmu, membuatku kecewa dengan segala kekuranganku. Atau mungkin kau begitu dingin hingga tak mengerti arti tatapan mataku saat perpisahan itu. Atau mungkin diammu yang telah menjawab, hingga membuatku takut untuk mendengar merdu suaramu lagi. Biarlah, kenangan tentangmu begini adanya. Indah, seindah mawar merah ini, yang harumnya memberi sejuk. Dan kupastikan kau tetap menjadi Safir dihatiku, yang kilaunya abadi. Andai kamu tahu Safir. Ah, andai dia tahu Tuhan. * * Bilakah dia tahu apa yang kurasakan Semenjak hari itu hati ini miliknya Mungkinkah dia jatuh hati seperti apa yang kurasa Mungkinkah dia jatuh cinta seperti apa yang kudamba Oh Tuhan yakinkan dia tuk jatuh cinta hanya untukku Andai Dia Tahu * * *

Iklan

One thought on “Andai Dia Tahu

    yummy said:
    24 Januari, 2009 pukul 5:21 pm

    ceritanya bagus ya?ni kenyataan bukan nih?
    btw,salam kenal!

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s