Vaksinasi itu guna ga sih??

Posted on


Pada tahun 1972, di Ghana terjadi serangan penyakit campak yang luas dengan angka kematian yang tinggi, padahal pada tahun 1967 Ghana diklaim oleh WHO sebagai negara yang telah bebas penyakit campak setelah sebelumnya 96% penduduknya telah mendapat vaksin campak.

Sejak tahun 1970 hingga 1990 batuk rejan melanda lebih dari 200.000 anak-anak di Inggris yang seluruhnya telah mendapat vaksin.

Pada tahun1970-an data menunjukkan bahwa dari 260.000 penduduk India yang menderita TBC, sebagian besar adalah mereka yang telah mendapatkan vaksin BCG.

Pada tahun 1977, Dr. Jonas Salk (penemu vaksin polio pertama) menyatakan bahwa suntikan vaksin polio adalah penyebab utama dari timbulnya penyakit polio di AS sejak tahun1961.

Tahun 1979 Swedia melaporkan ketidakefektifan vaksin karena lebih dari 5140 kasus batuk rejan pada tahun1978 terjadi pada penduduk yang 84%-nya telah divaksin batuk rejan sebanyak tiga kali.

Di Oman pada tahun 1988-1989 penyakit polio menyerang lebih dari 1000 anak-anak yang telah divaksin lengkap. Daerah yang tingkat vaksinasinya tinggi justru menjadi daerah yang tinggi jumlah penderitanya. Sementara daerah yang rendah cakupan vaksinnya rendah pula jumlah penderitanya.

Di AS sejak Juli 1990 hingga November 1990 US FDA (Food and Drug Administration) menghitung total kasus akibat negatif dari vaksin meliputi 54.072 kasus. Dan jumlah itu hanya 10% dari total kasus yang sebenarnya karena banyak tenaga medis yang menolak melaporkan kasus kasus reaksi buruk dari vaksin yang menimpa pasien mereka. Ini berarti kasus akibat buruk vaksin pada periode ini meliputi 500.000 orang.

Tahun 1999 vaksin Rotavirus ditarik dari peredarannya di AS terkait dengan sembilan puluh sembilan laporan sumbatan usus yang terjadi setelah vaksinasi.
Dari keseluruhan laporan program vaksinasi yang dikeluarkan oleh WHO (termasuk di Indonesia) dapat dilihat bahwa angka-angka kasus beberapa penyakit di dunia hingga tahun 2005 umumnya menurun. Di lain pihak, program vaksinasi semakin gencar dilakukan dan cakupannya semakin luas. Namun bila diperhatikan, ada beberapa data yang menunjukkan fakta bahwa tdak selalu tingginya cakupan vaksin dapat langsung menurunkan kasus penyakit yang terjadi.

Dengan demikian jelaslah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ada faktor lain yang memberi andil bagi turunnya kasus-kasus penyakit yang ada di dunia yaitu perbaikan sanitasi, kecukupan gizi serta pola hidup yang lebih baik.

Saat ini sudah banyak sekali fakta yang menunjukkan ketidakefektifan vaksin, bahkan bahaya akibat vaksin baik berupa timbulnya keluhan pasca vaksinasi dari yang ringan, berat, hingga kematian telah banyak dilaporkan. Berikut ini adalah sebagian dari fakta tersebut.

Tanggal 12 Juli 2002 Reuters News Service melaporkan hampir 1000 pelajar sekolah dilarikan ke rumah sakit setelah disuntik vaksin Ensefalitis di Timur Laut negeri Cina.

Data-data diatas menunjukkan bahwa banyak kasus penyakit justru timbul setelah vaksinasi dilakukan. Timbulnya penyakit polio, difteri dan penyakit lainnya ditemukan sebagian besar pada anak-anak yang telah diberikan vaksin, bahkan vaksinasi telah dilakukan berikut ulangannya. Hal ini memberikan bukti ketidakefektifan vaksin.

Pada faktanya, infeksi pada anak-anak seperti campak, batuk rejan, cacar air dan sebagainya tidak disebabkan oleh kuman melainkan disebabkan oleh kondisi toksik pada tubuh yang disebut Toxaemia. Toxaemia adalah akumulasi berbagai racun dalam tubuh akibat tubuh tidak mampu membuangnya. Seorang dokter Amerika ternama, Dr. Henry Bieler menyatakan bahwa penyebab utama penyakit bukanlah kuman. Penyakit disebabkan oleh Toxaemia yang menyebabkan rusak dan melemahnya sel-sel sehingga menjadi tempat berkembang biaknya kuman-kuman dalam tubuh yang kemudian melakukan serangan.

Ada beberapa penyebab toxaemia. Di negara-negara dunia ketiga umumnya toxaemia disebabkan oleh kurang gizi, air yang tidak bersih dan sanitasi yang buruk akibat dari kemiskinan dan ledakan jumlah penduduk. Sementara di negara-negara maju toxaemia umumnya berkaitan dengan konsumsi pangan hewani yang berlebihan, zat additif pada makanan, air, obat-obatan, vaksin, residu pestisida, dan racun dari limbah industri. Penyebab lainnya adalah pola pengasuhan anak yang kurang baik, keracunan susu, terlalu awal diberi makanan padat, kurang gizi dan sebagainya.

Demikianlah penjelasan ringkas mengapa vaksin tidak efektif untuk mencegah infeksi kuman yaitu karena vaksin tidak mampu menghilangkan penyebab utama dari penyakit. Alih-alih ditujukan untuk menstimulasi sistem imun dalam tubuh untuk melawan kuman, yang terjadi justru kuman (dalam vaksin) dimasukkan dalam ‘tubuh” toxaemia tanpa halangan, karena biasanya vaksin dimasukkan langsung ke dalam aliran darah, sehingga dengan mudah kuman akan segera memperbanyak diri dan menyerang tubuh. Hal ini dengan mudah menjelaskan mengapa penyakit-penyakit seperti campak, polio, tuberkulose dan sebagainya justru menyerang individu-individu yang telah diberi vaksin.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah sifat vaksin yang berbahaya bagi tubuh. Berbahayanya vaksin bagi tubuh tidak berkaitan dengan aspek ketidakefektifan vaksin mencegah infeksi penyakit. Aspek bahaya vaksin disebabkan oleh bahan-bahan dasarnya yang dibuat dari bahan-bahan kimia dan zat-zat lain yang bersifat racun bagi tubuh. Diantaranya adalah formaldehyde yang dikenal sebagai zat karsinogen; thimerosal, yang mengandung merkuri (logam berat beracun); aluminium phosphat, bahan pembuat deodoran yang beracun, dan zat-zat beracun lainnya seperti fenol, aceton.

Selain bahan kimia berbahaya, vaksin juga mengandung protein asing seperti embrio ayam, serum hewan, jaringan otak kelinci, sel ginjal monyet dan sebagainya yang digunakan sebagai media pertumbuhan virus atau bakteri. Keberadaan protein asing dalam darah dapat memicu terjadinya reaksi allergi, inflamasi dan sangat berbahaya bagi anak-anak dan bayi.

Ketika bahan-bahan vaksin masuk dalam aliran darah baik melalui suntikan maupun secara oral, tubuh akan segera melakukan aksi untuk mengeluarkan racun tersebut. Hal ini tidaklah mudah mengingat vaksin umumnya langsung dimasukkan dalam aliran darah melewati berbagai sistem pertahanan tubuh. Upaya pengeluaran zat asing dalam tubuh dilakukan baik melalui reaksi normal maupun diikuti oleh reaksi lain seperti demam, pembengkakan, atau ruam pada kulit.
Selama reaksi ini mampu dikendalikan, maka racun akan dapat dikeluarkan oleh tubuh tanpa menimbulkan reaksi buruk.

Namun pada sebagian anak, bahan-bahan beracun tersebut tidak mampu dikeluarkan tubuh sepenuhnya. Akibatnya racun vaksin akan tertahan dalam jaringan tubuh dan pada beberapa anak yang peka akan memicu munculnya berbagai macam penyakit seperti diabetes, autisma, asma, kerusakan syaraf, leukimia dan sebagainya.

Pada banyak anak, racun vaksin yang tertahan dalam jaringan tubuh mengakibatkan rasa nyeri atau gejala-gejala yang mudah dilihat seperti menurunnya vitalitas dan kreatifitas, kesulitan konsentrasi dan lemahnya fungsi metabolisma dan sistem imun6. Saat ini, racun yang tertahan dalam tubuh tidak hanya berasal dari racun vaksin, namun juga berasal dari obat, air yang tercemar, food aditif, residu pestisida, polusi udara radiasi elektromagnetik dan hal-hal lainnya yang turut memperparah kondisi tubuh. Tak heran jika kasus kasus penyakit pada anak semisal kanker, autisma, diabetes dan sebagainya semakin meningkat jumlahnya.

Dari uraian diatas jelas dapat difahami bahwa vaksin adalah zat yang tidak saja tidak efektif mencegah timbulnya penyakit dalam tubuh, bahkan vaksin adalah zat beracun yang dapat membahayakan tubuh. Namun, mengapa progran vaksin terus berjalan bahkan semakin menggurita dengan menjangkau hampir seluruh masyarakat di seluruh dunia?

Leon Chaitow penulis buku ‘Vaccination And Immunization” menyatakan bahwa keberlangsungan program vaksinasi bukanlah disebabkan oleh ‘asumsi’ manfaat vaksin melainkan oleh tiga hal pokok yaitu: (1) keuntungan hingga jutaan dollar US yang didapat oleh perusahaan-perusahaan obat, (2) proyek vaksin telah menjadi landasan yang kokoh bagi dunia medis yang secara tidak layak telah dibangun dengan segala upaya dan kehormatan dunia medis sehingga harus tetap dipertahankan, (3) Propaganda medis telah berhasil mengubah pemikiran mayoritas umat manusia untuk berfikir sesuai keinginan mereka sehingga masyarakat menerima vaksin tanpa berfikir secara kritis.

Keuntungan dari program vaksin memang luar biasa. Sebagai contoh WHO dalam bisnis vaksin flu burung saja mampu meraih keuntungan hingga Rp.5,520 trilyun! Itu hanyalah dari satu jenis vaksin saja. Bagaimana dengan vaksin lainnya seperti polio, BCG, DPT, TT dan lain-lain? Padahal semua vaksin tersebut telah menjadi program pemerintah yang diwajibkan atas bayi dan anak-anak hampir diseluruh dunia. Bisa dibayangkan berapa besar keuntungan yang diperoleh. Karena itu tak heran jika program vaksinasi terus berlanjut meski telah banyak meminta korban.
ini nemu dari email
dipotong karena tulisannya terlalu panjang
kalau mau bisa diunduh http://s.itb.ac.id/~habibieirfan130/Program%20Vaksinasi.pdf

Iklan

3 thoughts on “Vaksinasi itu guna ga sih??

    Utami Ekawati said:
    9 Oktober, 2008 pukul 10:18 am

    yah ndri..tadi aku udah ketik komen..
    tapi akunya oneng kali ya..
    kehapus..
    hmm..berhubung aku sudah kangen wc..ntar aja aku komennya

    santi said:
    19 Oktober, 2011 pukul 9:34 am

    untuk penulis, data-data penyakit yang terjadi di India, Ghana, Inggris, mohon disebutkan sumbernya, agar analisanya ilmiah, kalau hanya analisa-analisa tanpa dasar seperti diatas semua orang juga bisa buat. Terlihat penulis sangat tidak memahami vaksin, mana vaksin oral dan suntik saja kebalik-balik. Jangan menulis sesuatu yang sebenarnya anda sendiri tidak paham. Diskusikan dulu dengan ahlinya, baru sampaikan hasil debat anda disini, jangan hanya pendapat sepihak.

    Andri Haryono responded:
    19 Oktober, 2011 pukul 1:13 pm

    liat langsung ke tulisan lengkapnya aja mbak..
    terlalu panjang kalo ditulis di blog :p

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s