Sumilar Sebagai Pengganti Abate

Posted on


Pagi tadi rumah saya kedatangan petugas pengasapan (fogging) dari Kelurahan. Asap putih pun segera memenuhi sekeliling rumah. Pengasapan akan membantu untuk membasmi nyamuk dewasa, sedangkan jentik dan telurnya tak terusik. Cara yang efektif untuk mengatasi jentik nyamuk dan telurnya adalah dengan rumus 3M (menguras, menutup, mengubur), ikanisasi (menaruh ikan di bak atau tandon air) dan pemberian abate.

Dua hari yang lalu rumah saya juga didatangi dua orang petugas penyuluh kesehatan dari Kelurahan. Kunjungannya ini memang terkait dengan wabah penyakit demam berdarah yang akhir-akhir ini menyemarak di kampung kami (seperti yang saya ceritakan sebelumnya).

Selain memberi penyuluhan tentang 3M, lalu melakukan pengamatan secara sekilas kalau-kalau ada tempat-tempat yang disukai nyamuk untuk bersarang dan bertelur. Ada satu lagi yang baru, yaitu membagi bubuk pembasmi nyamuk yang disebut sumilar.

Sumilar ini ternyata adalah bahan pengganti abate yang selama ini digunakan dan dikenal masyarakat. Cara penggunaannya hampir sama dengan abate, yaitu dicelupkan atau dimasukkan ke dalam bak atau tandon air. Menurut penjelasannya, bahan pembasmi nyamuk yang disebut sebagai hormon sumilar ini lebih baik dibanding abate.

Setelah melacak di internet, saya menemukan penjelasan dari Sugeng Juwono Mardihusodo, seorang Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM yang juga menjabat sebagai presiden nyamuk, Asosiasi Pengendalian Nyamuk Indonesia (Kompas, Selasa 04-03-2008). Menurut beliau, sumilar sanggup menghambat pertumbuhan dan perkembangan larva nyamuk untuk menjadi dewasa dan mematikannya. Selain itu, sumilar juga mempunyai daya bunuh lebih lama dibanding abate. Kalau abate hanya efektif untuk 2-3 bulan pemakaian, sedangkan sumilar bisa mencapai 4-5 bulan.

Masih menurut Pak Sugeng : “Nyamuk-nyamuk sekarang sudah semakin sulit diberantas. Mereka sudah kebal abate dan disinfektan. Kekebalan pada nyamuk tersebut muncul karena memiliki gen resisten terhadap obat-obatan itu”.

***

Rupanya sekarang ini sumilar sedang diujicoba untuk dimasyarakatkan di kota Yogyakarta. Mudah-mudahan bukan uji coba tentang daya gunanya, melainkan hanya pemasyarakatannnya saja. Pelaksanaan uji coba ini adalah hasil kerjasama antara pemerintah kota dengan sebuah yayasan non-profit di Yogyakarta.

Sumilar kini mulai dibagi-bagikan secara gratis kepada masyarakat kota (masyarakat luar kota belum). Nampaknya Yogyakarta menjadi kota pertama yang menggunakan produk sumilar yang konon buatan Malaysia (begitu menurut informasi petugas penyuluh). Dari namanya saja sudah dapat ditebak, produk ini adalah buatan perusahaan Sumitomo.

Sumilar ini berupa butir-butir berukuran kecil (lebih kecil dari butiran batupasir), berwarna coklat muda bercampur dengan satu-dua butiran yang berwarna kehitaman. Bahan butiran halus ini dibagikan sudah dalam bentuk kemasan sangat sederhana, yaitu berupa bungkusan kantong plastik kecil yang diikat tali (jelas ini bukan kemasan dari pabriknya melainkan dikemas ulang agar masyarakat tinggal memakainya dengan mudah).

Plastiknya sendiri sudah ditusuk-tusuk dengan jarum sehingga berlubang-lubang kecil yang memungkinkan ditembus air. Di dalam bungkusan plasik ditambahi beberapa butir kerikil yang berfungsi sebagai pemberat. Maka, bungkusan sumilar tinggal dicelupkan atau ditenggelamkan ke dalam bak air dengan menggunakan talinya sebagai penggantung.

Seberapa efektifnya penggunaan sumilar sebagai pengganti abate? Kota Yogyakarta sedang membuktikannya. Kiranya yang akan menjadi kendala nampaknya justru ketelatenan masyarakat untuk memasang atau menggantung kantong plastik berisi sumilar ke dalam bak atau tandon, mengingat jika menggunakan abate biasanya tinggal menumpahkannya saja ke dalam air.

oleh : Yusuf Iskandar

sumber :

www.wikimu.com

Iklan

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s