jump to navigation

April Datang, Situs ‘vulgar’ Dihadang 28 Maret, 2008

Posted by Andri Haryono in Cerita-cerita.
add a comment

Bagi anda pengunjung atau bahkan penggemar situs ‘vulgar’, bersiap-siaplah untuk menelan ludah akibat kecewa karena situs kesayangan anda tidak bisa diakses lagi. Situs “kesayangan” anda tidak akan bisa lagi diakses karena pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan Informatika berencana untuk memblokir akses ke situs-situs ini mulai bulan April dan diharapkan akan selesai dalam bulan Mei 2008. Rencana tersebut diungkapkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh. Menurut M. Nuh, pemblokiran tersebut ditujukan untuk mengantisipasi dampak negatif sehubungan dengan perkiraan akan adanya lonjakan penggunaan internet di Indonesia setelah pemerintah memberikan fasilitas khusus kepada SMA/MA se-Indonesia secara gratis.Pemblokiran situs-situs jorok ini akan dilakukan dalam tiga tingkat, yaitu masyarakat, software (piranti lunak), dan lewat provider atau penyedia jasa internet. Pada tingkat masyarakat, diperlukan adanya kesadaran dan peran serta dari masyarakat untuk tidak lagi mengakses situs-situs tersebut. Pada tingkat software, Depkominfo akan menyediakan software yang dapat memblokir akses ke situs porno di website Depkominfo. Software tersebut dapat didownload untuk kemudian diinstal agar dapat memblokir akses ke situs porno. Selain itu upaya pemblokiran situs porno juga akan dilakukan oleh penyedia jasa internet atau ISP.

Lalu bagaimana implementasi dari kebijakan itu di lapangan? Apakah semua langkah-langkah tersebut akan benar-benar manjur untuk memblokir atau minimal mengurangi materi yang mengandung pornografi di internet? Jika meminjam bahasa iklan, jawabannya adalah may…maybe yes, maybe no.

Penyensoran materi yang mengandung pornografi di internet tidak sesederhana penyensoran di media massa lain seperti televisi, radio, koran, majalah, atau bahkan film. Berbeda dengan media massa lain, materi pornografi bisa masuk dari berbagai pintu. Situs porno hanyalah salah satu jalan masuk materi pornografi. Jika pemerintah memblokir akses ke situs porno, bagaimana dengan forum di internet yang sebagian atau seluruh materi yang ada di forum tersebut mengandung pornografi? Bagaimana dengan blog dan mailing list yang mengandung materi pornografi? Bagaimana jika materi yang berisi pornografi dikompres ,diproteksi dengan password untuk kemudian dikirim lewat e-mail atau “dititipkan” di file hosting? Mampukah materi illegal tersebut dihadang ?

Rasanya agak sulit untuk menutup semua pintu masuk bagi materi yang mengandung pornografi. Perumpamaan “bagaikan menggarami lautan” rasanya terlalu ekstrim untuk ditujukan pada langkah pemerintah memblokir situs porno. Perumpamaan yang tepat mungkin “bagaikan petani membasmi hama di sawah”. Mampukah pemerintah membasmi “hama” berupa materi yang mengandung pornografi apalagi jika “hama” itu punya banyak jalan menuju sawah? Sulit memang, tapi mungkin saja bisa, asalkan sang pembasmi benar-benar serius dan tentu saja harus lebih lihai dari sang hama.

Pemblokiran situs porno mungkin tidak bisa secara keseluruhan menghadang materi yang mengandung pornografi di internet, tetapi kebijakan tersebut tentu saja merupakan suatu langkah maju yang belum pernah dilakukan. Pemblokiran situs porno akan secara signifikan mengurangi akses ke hal-hal yang bersifat negatif di internet, sehingga impian akan adanya internet “sehat” mungkin bukan sekedar menjadi mimpi belaka. Salut untuk Menteri Komunikasi dan Informatika Bapak Muhammad Nuh, serta segenap jajaran di Departemen Komunikasi dan Informatika. Semoga kebijakan penyensoran internet ini akan tetap berlanjut walaupun sang nahkoda di Depkominfo harus berganti dengan sosok lain akibat dari Pemilu 2009 yang akan datang.

sumber :

www.wikimu.com

Sumilar Sebagai Pengganti Abate 28 Maret, 2008

Posted by Andri Haryono in Technology.
add a comment

Pagi tadi rumah saya kedatangan petugas pengasapan (fogging) dari Kelurahan. Asap putih pun segera memenuhi sekeliling rumah. Pengasapan akan membantu untuk membasmi nyamuk dewasa, sedangkan jentik dan telurnya tak terusik. Cara yang efektif untuk mengatasi jentik nyamuk dan telurnya adalah dengan rumus 3M (menguras, menutup, mengubur), ikanisasi (menaruh ikan di bak atau tandon air) dan pemberian abate.

Dua hari yang lalu rumah saya juga didatangi dua orang petugas penyuluh kesehatan dari Kelurahan. Kunjungannya ini memang terkait dengan wabah penyakit demam berdarah yang akhir-akhir ini menyemarak di kampung kami (seperti yang saya ceritakan sebelumnya).

Selain memberi penyuluhan tentang 3M, lalu melakukan pengamatan secara sekilas kalau-kalau ada tempat-tempat yang disukai nyamuk untuk bersarang dan bertelur. Ada satu lagi yang baru, yaitu membagi bubuk pembasmi nyamuk yang disebut sumilar.

Sumilar ini ternyata adalah bahan pengganti abate yang selama ini digunakan dan dikenal masyarakat. Cara penggunaannya hampir sama dengan abate, yaitu dicelupkan atau dimasukkan ke dalam bak atau tandon air. Menurut penjelasannya, bahan pembasmi nyamuk yang disebut sebagai hormon sumilar ini lebih baik dibanding abate.

Setelah melacak di internet, saya menemukan penjelasan dari Sugeng Juwono Mardihusodo, seorang Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM yang juga menjabat sebagai presiden nyamuk, Asosiasi Pengendalian Nyamuk Indonesia (Kompas, Selasa 04-03-2008). Menurut beliau, sumilar sanggup menghambat pertumbuhan dan perkembangan larva nyamuk untuk menjadi dewasa dan mematikannya. Selain itu, sumilar juga mempunyai daya bunuh lebih lama dibanding abate. Kalau abate hanya efektif untuk 2-3 bulan pemakaian, sedangkan sumilar bisa mencapai 4-5 bulan.

Masih menurut Pak Sugeng : “Nyamuk-nyamuk sekarang sudah semakin sulit diberantas. Mereka sudah kebal abate dan disinfektan. Kekebalan pada nyamuk tersebut muncul karena memiliki gen resisten terhadap obat-obatan itu”.

***

Rupanya sekarang ini sumilar sedang diujicoba untuk dimasyarakatkan di kota Yogyakarta. Mudah-mudahan bukan uji coba tentang daya gunanya, melainkan hanya pemasyarakatannnya saja. Pelaksanaan uji coba ini adalah hasil kerjasama antara pemerintah kota dengan sebuah yayasan non-profit di Yogyakarta.

Sumilar kini mulai dibagi-bagikan secara gratis kepada masyarakat kota (masyarakat luar kota belum). Nampaknya Yogyakarta menjadi kota pertama yang menggunakan produk sumilar yang konon buatan Malaysia (begitu menurut informasi petugas penyuluh). Dari namanya saja sudah dapat ditebak, produk ini adalah buatan perusahaan Sumitomo.

Sumilar ini berupa butir-butir berukuran kecil (lebih kecil dari butiran batupasir), berwarna coklat muda bercampur dengan satu-dua butiran yang berwarna kehitaman. Bahan butiran halus ini dibagikan sudah dalam bentuk kemasan sangat sederhana, yaitu berupa bungkusan kantong plastik kecil yang diikat tali (jelas ini bukan kemasan dari pabriknya melainkan dikemas ulang agar masyarakat tinggal memakainya dengan mudah).

Plastiknya sendiri sudah ditusuk-tusuk dengan jarum sehingga berlubang-lubang kecil yang memungkinkan ditembus air. Di dalam bungkusan plasik ditambahi beberapa butir kerikil yang berfungsi sebagai pemberat. Maka, bungkusan sumilar tinggal dicelupkan atau ditenggelamkan ke dalam bak air dengan menggunakan talinya sebagai penggantung.

Seberapa efektifnya penggunaan sumilar sebagai pengganti abate? Kota Yogyakarta sedang membuktikannya. Kiranya yang akan menjadi kendala nampaknya justru ketelatenan masyarakat untuk memasang atau menggantung kantong plastik berisi sumilar ke dalam bak atau tandon, mengingat jika menggunakan abate biasanya tinggal menumpahkannya saja ke dalam air.

oleh : Yusuf Iskandar

sumber :

www.wikimu.com